"Pie Cis, pesawat e iso mudun Semarang kan? Ibu wes kangen banget karo kowe" (Gimana Cis, pesawatnya bisa turun di Semarang kan? Ibu sudah sangat merindukanmu)
PS: Cis adalah nickname-ku di antara keluarga.
Begitulah yang selalu dikatakan Ibuku akhir-akhir ini setiap kali kami berbincang di telepon. Bapak sebetulnya juga sama saja, tapi beliau kurang ekspresif dan gemar mengalihkan pembicaraan menjadi semacam: Sebelum pulang sempet mampir Old Trafford lagi nggak kira-kira? Ah, Bapak memang bukan tipe orang yang dengan mudah mengungkapkan perasaan, sifat yang menurun kepadaku. Kami berdua sama-sama lebih suka mengungkapkan perasaan dalam tulisan dibandingkan lisan.
Menurutku, hal yang paling berat saat tinggal di luar negeri adalah ketika aku merindukan keluarga dan teman-temanku di Indonesia, terutama Bapak dan Ibu, meskipun aku juga rindu dengan Mas Boniek, Teteh Eni dan tiga orang keponakanku: Zhiifah, Ei, dan Ikhsan (meskipun aku belum pernah bertemu dengan si bungsu yang lahir ketika aku berada di Inggris). Di balik foto-foto Instagram yang terkesan "wah" dan "hore", sesungguhnya terselip air mata kerinduan untuk mereka semua. Dan aku bukan orang yang dengan mudah bilang: "Pak, Bu, aku kangen rumah." "Aku kangen sayur asam buatan Ibu." "Aku kangen dibonceng Bapak naik motor cari mie rebus malam-malam." Bisa-bisa mereka menangis kalau sampai mendengarku bicara begitu. Jadilah aku memendam kerinduan ini dalam diam. And I think I'm good at it.
Ada satu alasan kenapa terkadang aku suka menyendiri: sehingga aku tidak perlu tetap berusaha keras tersenyum. Ada hal-hal dalam perjalanan yang terkadang menyentuh hatiku, mengingatkanku kepada Bapak dan Ibu. Hal-hal kecil seperti orang tua yang mengajak anaknya bepergian dengan kereta, menjelaskan bagaimana kereta beroperasi dan mengobrol ringan. Aku teringat salah satu perjalanan dengan kereta bersama orang tuaku.
Waktu itu usiaku 4 tahun. Beberapa waktu sebelumnya, Bapak berjanji kepada kami akan mengajak ke Jakarta naik kereta kalau Mas Arief, kakak pertamaku sembuh. Well, although he couldn't make it but Bapak took me and Mas Boniek to Jakarta by train. Perjalanan pertamaku naik kereta, dimana Ibu dengan sabar menjelaskan kepadaku bagaimana palang kereta di utara Jawa bekerja, sehingga tidak ada kejadian kereta bertabrakan dengan kendaraan lain. Tidak seperti di Inggris, kereta dan kendaraan darat lain di Indonesia masih harus berbagi jalur.
Dan aku termasuk anak yang sangat beruntung. Ketika orang lain cenderung suka mengajak anak-nya ke mal, Bapak dan Ibu lebih suka mengajakku ke tempat-tempat yang alami seperti kebun karet atau kebun kopi. Tempat di mana Cesty kecil biasa berlari-lari, dimana Ibu menunggu di atas tikar dengan bekal yang dibawa dari rumah. Sesuatu yang banyak aku temukan di Inggris, di saat matahari menyapa, sesuatu yang membawaku kembali ke masa kecil.
Berapa kali orang tuaku main tangan? Jawabannya: tidak pernah sama sekali. Mereka bahkan tidak pernah mengumpat di depanku. Tapi mereka juga tidak pernah selalu membabi buta membelaku. Jika aku pulang menangis dan mengadu kenakalan temanku kepada Ibu, jawaban pertama Ibu adalah: kalau kamu dinakalin, mungkin kamu yang nakal duluan. Hal kecil yang sekarang aku tahu merupakan pembelajaran agar aku tidak dengan mudah menyalahkan orang lain.
Satu lagi pesan Ibuku yang akan selalu aku ingat: kalau suatu hari kamu sudah berkeluarga dan suamimu pulang dalam keadaan mabuk, tolong jangan dimarahin. Ditanya baik-baik sudah makan atau belum, mau mandi pakai air hangat apa nggak, terus siapkan teh. Karena marah dan emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Ya, Ibu benar. Kasih sayang dan kesabaran adalah kunci untuk menyelesaikan banyak hal.
Meskipun ada ratusan alasan untuk menetap di sini, ada satu alasan yang lebih kuat dari semuanya untuk tetap pulang: Bapak dan Ibu.
Bapak, Ibu, sampai jumpa bulan depan, ya. Tolong siapkan pelukan hangat untukku di bandara nanti.
Birmingham, 12 Agustus 2017
Saturday, August 12, 2017
Tuesday, May 16, 2017
Five Months to Go
When You Get a Groove Going, Time Flies (Donald Fagen)
Tidak terasa tujuh bulan sudah aku tinggal di Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris Raya, menjalani kehidupanku sebagai seorang pelajar. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menginjakan kaki di Birmingham International Airport, mengikuti induction week di kampus, masuk kelas pertama-ku, dan sederetan memori lainnya yang ingin aku lekatkan di ingatanku.
18 September 2016, hari di mana aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Birmingham, tepat di siang hari. Hari di mana aku akan mulai menempuh pendidikan selama setahun. Kesan pertama yang aku dapat saat tiba di Birmingham International Airport: takjub melihat bandara internasional ini ternyata dilengkapi dengan fasilitas tempat sholat. Awal yang baik untuk menghapus kekhawatiranku menjalani hidup sebagai minoritas di Inggris.
Tidak terasa tujuh bulan sudah aku tinggal di Birmingham, kota terbesar kedua di Inggris Raya, menjalani kehidupanku sebagai seorang pelajar. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku menginjakan kaki di Birmingham International Airport, mengikuti induction week di kampus, masuk kelas pertama-ku, dan sederetan memori lainnya yang ingin aku lekatkan di ingatanku.
18 September 2016, hari di mana aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Birmingham, tepat di siang hari. Hari di mana aku akan mulai menempuh pendidikan selama setahun. Kesan pertama yang aku dapat saat tiba di Birmingham International Airport: takjub melihat bandara internasional ini ternyata dilengkapi dengan fasilitas tempat sholat. Awal yang baik untuk menghapus kekhawatiranku menjalani hidup sebagai minoritas di Inggris.
Sampailah aku di bagian Birmingham yang bernama Selly Oak, sebuah desa di pinggiran kota Birmingham yang lokasinya dekat dengan kampusku, University of Birmingham. Di desa inilah aku tinggal. Jarak Selly Oak menuju pusat kota Birmingham sekitar 20 menit menggunakan bis atau 10 menit dengan kereta. Sebagai kota terbesar kedua di Inggris, fasilitas di Birmingham sangat lengkap meskipun tidak terlalu berlebihan. Bahkan ada Chatime di salah satu pusat perbelanjaannya (ini penting banget!!!). Birmingham adalah kota yang nyaman untuk hidup, meskipun tidak banyak tourist attractions di sini. Tapi aku sudah cukup bahagia bisa duduk di pinggir kanal bersama segelas green tea latte. Setidaknya sampai aku harus beranjak karena masuk angin.
Sebagai seorang Muslim, awalnya aku merasa khawatir kesulitan untuk melaksanakan ibadah maupun menemukan makanan halal di Birmingham. Anggapan ini kemudian pupus, saat melihat sederetan tempat makan halal di Selly Oak, daerah tempat tinggalku. Sebagian besar tempat makan di Selly Oak telah mengantongi sertifikat halal. Begitupun dengan tempat makan di Kota Birmingham dan Inggris secara keseluruhan. Ini menjadi alasan kenapa aku begitu menikmati masa-masa menempuh pendidikan di Birmingham. Dan sekarang waktuku di sini hanya tersisa sekitar lima bulan lagi, sebelum aku kembali ke Indonesia, sebelum aku kembali ke kenyataan.
Di satu sisi aku bersyukur kehidupanku di sini berjalan dengan sangat lancar. Aku juga senang akan segera berjumpa dengan keluarga dan teman-temanku di Indonesia. Aku akan kembali menikmati makanan-makanan kesukaanku. Aku tidak perlu lagi susah-susah mencari tempat yang memungkinkan untuk beribadah ketika sedang travelling, karena mudah sekali menemukan mushola di Indonesia.
Tapi di sisi lain, aku pasti akan sangat merindukan kehidupanku sebagai pelajar di Birmingham. Aku akan merindukan masa-masa mengenakan pakaian kasual- t-shirt, jaket, celana jeans dan sepatu kets dengan tas ransel- sesuatu yang tidak mungkin aku kenakan saat kembali ke kantor. Aku akan merindukan sapaan kasir di Aldi, minimarket di depan tempat tinggalku semacam "Hey, are you alright?". Aku akan merindukan duduk di rerumputan di Winterbourne House and Garden, menikmati afternoon tea kesukaanku, ataupun membaca buku di salah satu bangku taman -sampai masuk angin. Aku akan merindukan menjadi impulsif, tiba-tiba membeli tiket kereta untuk pergi ke sisi lain Inggris dan berpetualang sendirian. Dan yang paling penting, aku akan merindukan semua teman-teman yang sudah menemani perjalananku selama menempuh pendidikan di Birmingham, orang-orang yang berhasil membuatku melupakan homesick dan terhindar dari winter blues.
Birmingham, kota di mana aku banyak belajar mengenai kehidupan, saat aku berada 10 ribu mil dari rumah dan jauh dari keluarga. Aku berharap, saat aku kembali ke Indonesia, aku bisa membawa bagian diriku yang lebih berani dan ceria untuk bekal kehidupanku selanjutnya. Sungguh, aku bersyukur atas kesempatan merasakan pengalaman yang luar biasa ini.
Untuk sekarang, aku masih memiliki sisa waktu selama lima bulan. We don't know how long we are going to live, so I choose to live in the moment. Aku akan menikmati waktuku yang tersisa selama di sini, mengukir kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan setiap detiknya. Meskipun aku tahu, akan ada serpihan jiwaku yang akan selalu tertinggal di tempat ini.
So, five months to go and I'll be home.
Di satu sisi aku bersyukur kehidupanku di sini berjalan dengan sangat lancar. Aku juga senang akan segera berjumpa dengan keluarga dan teman-temanku di Indonesia. Aku akan kembali menikmati makanan-makanan kesukaanku. Aku tidak perlu lagi susah-susah mencari tempat yang memungkinkan untuk beribadah ketika sedang travelling, karena mudah sekali menemukan mushola di Indonesia.
Tapi di sisi lain, aku pasti akan sangat merindukan kehidupanku sebagai pelajar di Birmingham. Aku akan merindukan masa-masa mengenakan pakaian kasual- t-shirt, jaket, celana jeans dan sepatu kets dengan tas ransel- sesuatu yang tidak mungkin aku kenakan saat kembali ke kantor. Aku akan merindukan sapaan kasir di Aldi, minimarket di depan tempat tinggalku semacam "Hey, are you alright?". Aku akan merindukan duduk di rerumputan di Winterbourne House and Garden, menikmati afternoon tea kesukaanku, ataupun membaca buku di salah satu bangku taman -sampai masuk angin. Aku akan merindukan menjadi impulsif, tiba-tiba membeli tiket kereta untuk pergi ke sisi lain Inggris dan berpetualang sendirian. Dan yang paling penting, aku akan merindukan semua teman-teman yang sudah menemani perjalananku selama menempuh pendidikan di Birmingham, orang-orang yang berhasil membuatku melupakan homesick dan terhindar dari winter blues.
Birmingham, kota di mana aku banyak belajar mengenai kehidupan, saat aku berada 10 ribu mil dari rumah dan jauh dari keluarga. Aku berharap, saat aku kembali ke Indonesia, aku bisa membawa bagian diriku yang lebih berani dan ceria untuk bekal kehidupanku selanjutnya. Sungguh, aku bersyukur atas kesempatan merasakan pengalaman yang luar biasa ini.
Untuk sekarang, aku masih memiliki sisa waktu selama lima bulan. We don't know how long we are going to live, so I choose to live in the moment. Aku akan menikmati waktuku yang tersisa selama di sini, mengukir kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan setiap detiknya. Meskipun aku tahu, akan ada serpihan jiwaku yang akan selalu tertinggal di tempat ini.
So, five months to go and I'll be home.
Tuesday, February 21, 2017
After Six Months
Waktu begitu cepat berlalu. Tidak terasa hampir enam bulan aku tinggal di Birmingham, sebuah kota di Inggris yang berjarak sekitar 10 ribu mil dari rumahku. Rasanya baru kemarin aku menginjakkan kaki di Birmingham International Airport, dijemput oleh Mas Andrie yang akhirnya menjadi housemate-ku, keliling mencari akomodasi, kebingungan memesan makanan di tempat makan sepanjang Selly Oak, berkeliling city center bersama Mas Ardi sebelum dia pulang ke Indo, dan sekarang aku sudah bisa melakukan banyak hal sendiri selama tinggal di sini. Well, termasuk berkeliling ke kota-kota lain di Inggris seorang diri.
Kesanku tentang negara ini: aku sukaaaaa, tentu saja dengan mengesampingkan cuaca yang berubah-ubah semau sendiri (as my friend said: welcome to UK!) dan juga makanan. Kalau untuk makanan, masakan Indonesia masih juara di lidahku. Aku merindukan bebek madura di depan apartemen dulu, serta ayam kremes dan pecel lele di daerah Setiabudi. Yang jelas, aku rindu dengan semua masakan ibuku!!!
Sejauh ini aku tidak mengalami homesick yang parah. Kehidupan sosialku juga lebih baik daripada ketika tinggal di Jakarta. Bagaimana mau punya kehidupan sosial yang baik kalau sebagian besar waktu digunakan untuk menembus kemacetan Jakarta. Aku senang dengan orang-orang di sini, I make a lot of new friends in the past six months. Teman-teman sekelas-ku juga menyenangkan dan helpful.
Aku bingung ketika orang bertanya hal yang paling aku sukai ketika tinggal di sini. Terlalu banyak. Aku senang tidak ada orang yang peduli ketika aku memakai jumper dan celana jeans ketika pergi ke kampus, lengkap dengan sepatu kets. Sesuatu yang tidak mungkin aku kenakan untuk pergi ke kantor. Aku senang dengan tradisi minum teh di Inggris. Aku senang dengan keramahan orang Inggris kepada para pendatang. Oh iya, sebagai seorang Muslim aku tidak menemukan kesulitan untuk beribadah ketika tinggal di Birmingham. Kota ini bahkan memiliki multi-faith room di stasiun-nya. Tempat tinggalku di sini juga dekat dengan masjid. Meskipun memang suara adzan tidak dikumandangkan dengan speaker.
Bagaimana dengan culture shock? Sejujurnya aku tidak menemukan kesulitan yang berarti. Masalah bahasa di awal-awal pasti lah aku hadapi, tapi sekarang aku sudah terbiasa. Kunci-nya: be yourself. Aku bersyukur teman-temanku memiliki rasa toleransi yang tinggi. Saat datang ke party mereka, aku selalu diberi menu masakan non-pork dan non-alcohol. I'm lucky to meet them!
Kesanku tentang kota-kota lain di Inggris juga bagus. Sejauh ini aku baru ke London, Liverpool, Manchester, Bath, Oxford, York, Glasgow, Edinburgh, Lancaster dan Nottingham. Tidak termasuk kota-kota di sekitar Birmingham dengan waktu tempuh kurang dari satu jam ya.
So after six months, I fall for this country. However, I still miss my home. I miss my family and the Indonesian foods. There's no more complain about the cold weather here, but like The Passenger says: only miss the sun when it starts to snow.
Tuesday, January 31, 2017
Kisahku dan Secangkir Teh
I have an affair, with a cup of tea. Most of my friends say that whenever they see a cup of tea, they remember me.
Banyak temanku berkata aku cocok tinggal di Inggris, negara dengan budaya minum teh di siang/sore hari atau yang biasa disebut dengan British Afternoon Tea. Tradisi minum teh di Inggris cukup unik. Teh disajikan bersama dengan camilan yang disusun dalam piring bertingkat atau three tier. Selain itu, orang Inggris biasa menambahkan sedikit susu ke dalam secangkir teh yang mereka nikmati. Budaya minum teh di Inggris menjadi waktu dimana orang saling bersosialisasi dan bercerita. Meskipun aslinya tradisi ini penuh dengan aturan tertentu, namun aku biasa menikmatinya dengan santai tanpa harus memperhatikan aturan macam table manner. Kecuali pada saat-saat tertentu.
Berikut salah satu ilustrasi kegiatan Afternoon Tea yang pernah aku lakukan:
Sudah lebih dari empat bulan aku tinggal di Inggris. Tapi sesungguhnya, kisahku bersama secangkir teh telah dimulai jauh sebelum ini. Terlahir dari keluarga Jawa, orang tuaku biasa memulai hari dengan secangkir teh. Begitupun di sore hari, saat Ibuku membuat secangkir teh yang disajikan bersama pisang goreng ataupun mendoan. Dan seketika aku rindu masa-masa itu. Meskipun teh yang dibuat ibuku bukan teh ala ala Inggris (dengan berbagai macam rasa), namun sampai dengan saat ini teh itu menjadi teh terenak yang pernah aku nikmati. Apalagi di saat hujan bersama sepiring pisang goreng hangat.
Beberapa tahun lalu, aku sempat melupakan teh. Aku lebih menyukai kopi. Bagiku, aroma kopi begitu menyenangkan. Sampai kemudian tubuhku mulai bermasalah karena secangkir kopi. Kemudian aku beralih pada teh. Temanku yang mengenalkan dengan macam-macam teh yang ada. Saat ini yang menjadi favoritku adalah black vanilla, chamomile, lemon ginger dan tentunya green tea latte. Aku bersyukur tinggal di Inggris, negara yang kaya dengan varian teh. Negara dimana aku sangat mudah menemukan teh dengan kualitas terbaik.
Tapi tetap saja, teh kepyur buatan Ibuku yang wangi, sepet, kental dan manis adalah favoritku sepanjang masa. Teman-temanku boleh bangga dengan berbagai macam minuman yang pernah mereka coba. Namun bagiku, secangkir teh cukup untuk membuatku tersenyum dan sejenak melupakan penat.
Saturday, December 31, 2016
Adios 2016, Bienvenido 2017
Good bye 2016, Welcome 2017
So this is the last night of 2016. Seperti biasa, aku menjalankan ritual malam tahun baru: stay home, makan enak, nonton sepuasnya, minum teh (tahun-tahun sebelumnya minum kopi, sebelum masalah lambung menerpa *halah*), baca buku dan tidur. Senang rasanya masih bisa menjalankan tradisi ini meskipun sedang jauh dari rumah. Pada awalnya aku memiliki banyak rencana untuk malam tahun baru, mulai dari pergi ke Skotlandia, nonton kembang api di London Eye, dan yang baru saja aku putuskan untuk batal: pergi ke Centenary Square, pusat perayaan tahun baru di Birmingham. Diam di rumah adalah pilihan tepat, untuk orang yang tidak menyukai keramaian seperti aku. I feel like I'm still me although I'm thousands miles away from home.
Seperti biasa saat malam tahun baru, aku melihat kembali apa yang terjadi selama satu tahun ke belakang. Awal 2016 sejujurnya tidak terlalu baik untukku, sampai bulan Maret dan April. Sampai akhirnya perlahan tapi pasti, 2016 menjadi tahun yang sangat menakjubkan. Satu demi satu wish list-ku terlaksana. Mulai dari berkunjung ke tempat Shakespeare, sampai menonton pertandingan Liverpool. Oke, tahun ini tidak ada agenda solo travelling, but hey I will definitely do it as soon as possible.
Overall, 2016 was so amazing. I got scholarship to pursue higher education -in the field I really like-, I moved on (finally), I found love -not only one but a lot of loves around me-, I made a lot of new friends, there's nothing to regret and I'm happy with my life. If there were some issues, well, that's what life is about. I wish in 2017, all of those problems will be solved well.
2017...
I'm ready, I must be. I wish for a better year in 2017. Bismillah... May Allah bless me and the loved ones to have a wonderful year ahead.
Bienvenido 2017, puedes ser un buen año para mi-Welcome 2017, may you be a good year for me.
Birmingham, 31 December 2016
Thursday, September 8, 2016
Road to Birmingham
Saat tulisan ini dibuat, aku sedang mempersiapkan diri untuk berangkat ke Birmingham minggu depan (termasuk harap-harap cemas menanti visa, menanti SA dan menanti jodoh *eh*. Semoga semua dapat datang tepat waktu. Termasuk yang ketiga).
Perjalanan menuju kuliah di University of Birmingham dimulai awal tahun lalu, saat aku datang ke UK Education Expo di Hotel Sahid. Sebenarnya aku tidak pernah memasukan UoB dalam opsi tujuan kuliahku. Aku dulu sangat ingin kuliah di St. Andrews, sampai sudah membayangkan duduk-duduk di kastil atau rerumputan sambil baca buku, terus tiba-tiba ada cowok ganteng menghampiri dan bilang: "Hey you read that book? That's my favorite too!". Kyaaaaa. (Oke imajinasi gue emang berlebihan).
Sampai ketika negara api menyerang. Perwakilan UoB di UK Education Expo sukses meyakinkanku untuk memilih kampus ini. Mas-mas ganteng bermata biru yang atraktif betul-betul sukses merayuku untuk mendaftar ke UoB. Well, jawaban profesional-nya: karena UoB menawarkan Asia Pasific Security Studies, sesuai dengan minat dan pekerjaanku sekarang *kibas kerudung*. Anw, di atas kertas syarat untuk masuk UoB tidak susah. IELTS 6,5 dengan setiap band minimal 6. Taaapppiiii.... Buatku ini susah. Aku tes IELTS pertama kali di bulan Agustus 2015, seminggu setelah pindah ke instansi yang baru. Ngeri-ngeri sedap karena tanpa persiapan. Kesibukan masa transisi benar-benar membuatku tidak belajar sama sekali. Nekat aja gitu. Hasilnya... 6.5 sih, tapi writing masih 5.5. Terus nekat daftar UoB. Sesuai dengan pesan ibuku: bukan admission office yang menentukan, tapi Allah. Di saat-saat seperti ini aku beneran jadi alim.
Selain IELTS, ada syarat-syarat lain yang dibutuhkan. Ada beberapa essay yang ditulis. Juga dua surat rekomendasi. Surat rekomendasi satu dari dosen, satu dari atasan. Untuk essay... Thanks to someone... You've helped me a lot. Beberapa bulan kemudian.. aku mendapat conditional offer letter. Butuh IELTS yang cukup untuk bisa mendapatkan unconditional offer letter. Oke tes IELTS lagi. Kali ini harus pake preparation. Tapi kemudian negara api kembali menyerang. Lagi-lagi aku hampir nggak ada waktu untuk preparation. Bukan sok sibuk, tapi beneran deh dulu aku sibuk banget :(
Seminggu setelah seleksi substansi LPDP, aku tes IELTS lagi. Kali ini lebih nggak ada persiapan. Hasilnya... Jeblok. Masih 6.5 tapi tetep aja writing-nya kurang. Haaahhh harus segera tes IELTS lagi secepatnya. Demi unconditional offer letter. Demi nggak di-kick dari PK-74 tercinta. Jadilah aku nggak datang ke nikahan roommate aku demi IELTS. Kali ini aku harus bisa. Alhamdulillah bisa. Dapat 7.5. Langsung aku scan dan kirim sertifikat IELTS ke UoB. Nunggu lama. Dari tanggal 1 Agustus sampai 26 Agustus 2016. Lama, tapi nggak selama nunggu jodoh. Sampe beberapa hari setelah PK aku mendapat uncoditional offer letter dan CAS. Alhamdulillah...
Oke, perjuangan masih belum selesai. Aku masih harus mengurus beberapa berkas agar bisa berangkat ke UoB tepat waktu, untuk mengikuti induction week di tanggal 19 September 2016 nanti.
PS: Khusus untuk IELTS, nanti aku akan menuliskan dalam satu pos tersendiri ^^
Wish Me Luck!!!
Perjalanan menuju kuliah di University of Birmingham dimulai awal tahun lalu, saat aku datang ke UK Education Expo di Hotel Sahid. Sebenarnya aku tidak pernah memasukan UoB dalam opsi tujuan kuliahku. Aku dulu sangat ingin kuliah di St. Andrews, sampai sudah membayangkan duduk-duduk di kastil atau rerumputan sambil baca buku, terus tiba-tiba ada cowok ganteng menghampiri dan bilang: "Hey you read that book? That's my favorite too!". Kyaaaaa. (Oke imajinasi gue emang berlebihan).
Sampai ketika negara api menyerang. Perwakilan UoB di UK Education Expo sukses meyakinkanku untuk memilih kampus ini. Mas-mas ganteng bermata biru yang atraktif betul-betul sukses merayuku untuk mendaftar ke UoB. Well, jawaban profesional-nya: karena UoB menawarkan Asia Pasific Security Studies, sesuai dengan minat dan pekerjaanku sekarang *kibas kerudung*. Anw, di atas kertas syarat untuk masuk UoB tidak susah. IELTS 6,5 dengan setiap band minimal 6. Taaapppiiii.... Buatku ini susah. Aku tes IELTS pertama kali di bulan Agustus 2015, seminggu setelah pindah ke instansi yang baru. Ngeri-ngeri sedap karena tanpa persiapan. Kesibukan masa transisi benar-benar membuatku tidak belajar sama sekali. Nekat aja gitu. Hasilnya... 6.5 sih, tapi writing masih 5.5. Terus nekat daftar UoB. Sesuai dengan pesan ibuku: bukan admission office yang menentukan, tapi Allah. Di saat-saat seperti ini aku beneran jadi alim.
Selain IELTS, ada syarat-syarat lain yang dibutuhkan. Ada beberapa essay yang ditulis. Juga dua surat rekomendasi. Surat rekomendasi satu dari dosen, satu dari atasan. Untuk essay... Thanks to someone... You've helped me a lot. Beberapa bulan kemudian.. aku mendapat conditional offer letter. Butuh IELTS yang cukup untuk bisa mendapatkan unconditional offer letter. Oke tes IELTS lagi. Kali ini harus pake preparation. Tapi kemudian negara api kembali menyerang. Lagi-lagi aku hampir nggak ada waktu untuk preparation. Bukan sok sibuk, tapi beneran deh dulu aku sibuk banget :(
Seminggu setelah seleksi substansi LPDP, aku tes IELTS lagi. Kali ini lebih nggak ada persiapan. Hasilnya... Jeblok. Masih 6.5 tapi tetep aja writing-nya kurang. Haaahhh harus segera tes IELTS lagi secepatnya. Demi unconditional offer letter. Demi nggak di-kick dari PK-74 tercinta. Jadilah aku nggak datang ke nikahan roommate aku demi IELTS. Kali ini aku harus bisa. Alhamdulillah bisa. Dapat 7.5. Langsung aku scan dan kirim sertifikat IELTS ke UoB. Nunggu lama. Dari tanggal 1 Agustus sampai 26 Agustus 2016. Lama, tapi nggak selama nunggu jodoh. Sampe beberapa hari setelah PK aku mendapat uncoditional offer letter dan CAS. Alhamdulillah...
Oke, perjuangan masih belum selesai. Aku masih harus mengurus beberapa berkas agar bisa berangkat ke UoB tepat waktu, untuk mengikuti induction week di tanggal 19 September 2016 nanti.
PS: Khusus untuk IELTS, nanti aku akan menuliskan dalam satu pos tersendiri ^^
Wish Me Luck!!!
Sunday, August 21, 2016
Persiapan Keberangkatan Angkatan 74: 130 Cerita, 6 Hari, 1 Mimpi
Persahabatan kami berawal jauh sebelum kami betul-betul bertatap muka, awal Juni 2016. Kami saling mengenal lewat telegram, hingga saat waktu berlalu, beberapa dari kami mulai sering bertemu. Pada akhirnya, 15 Agustus 2016 kami betul-betul bertatap muka secara lengkap. Inilah kisah Persiapan Keberangkatan (PK) 74 LPDP, Rajawali Guinandra dari sudut pandang-ku. Terlalu banyak kisah yang bisa diceritakan, setiap detiknya begitu berharga. Pada kesempatan lain aku akan berbagi setiap detail dari kisah itu, karena aku tak ingin kisah ini hilang dari pikiranku dan menjadi memori belaka.
15 Agustus 2016, kami memulai perjalanan ini bersama. Berawal dari PIC menyapa, berakhir dengan bernyanyi bersama. Lagu angkatan Terbanglah Rajawali Guinandra yang membahana, mengingatkan setiap kenangan manis yang kami punya. Setiap detik yang aku lewati bersama kalian begitu berharga, begitupun pelajaran yang kalian berikan untuk bekal hariku berikutnya.
Begitu banyak perubahan yang diberikan oleh 129 orang padaku. Selamat, kalian sukses membuatku mau berolahraga selain yoga, bahkan aku mencoba bermain voli meskipun hanya melihat bola itu melambung melewati net yang tertutup kantong plastik. Kalian berhasil membuatku lepas dan menjadi diri sendiri, sesuatu yang sudah lama tak ku lakukan. Aku lupa kapan terakhir kali aku bergoyang dan berteriak sedemikian lepas. Percayalah, keseharianku sangat jauh dari semua itu.
Aku berharap mendapat satu inspirasi baru dari PK kita, tapi ternyata aku gagal. Aku mendapat 129 inspirasi baru. Kalian mengajarkanku untuk bersyukur atas semua yang aku miliki. Kalian menyembuhkan mati rasa yang aku alami, sebelum kita bertemu. Melihat dunia dari berbagai sisi sungguh membuatku sadar betapa berartinya hidup ini.
Enam hari waktu yang begitu singkat. Ada 130 cerita di sana, dari 130 anak Indonesia, namun aku tahu kita semua memiliki satu mimpi untuk Indonesia yang lebih baik. Kalau boleh jujur, aku lupa kapan terakhir kali aku jatuh cinta. Sebelum bertemu kalian tentunya. Dan sekarang, bersama kalian, aku merasakan jatuh cinta lagi. Bukan hanya satu cinta, tapi 129 cinta.
Kalau boleh aku jujur, aku sungguh bersyukur kita hanya melewati waktu bersama-sama selama enam hari. Enam hari yang cukup membuaku susah untuk move on. Atau mungkin lebih baik aku tak pernah move on. Aku ingin membawa semangat yang aku rasakan bersama kalian, dimanapun dan kapanpun aku melangkah. Bayangkan akan segalau apa kita kalau bersama-sama lebih lama lagi.
Di sesi PIC menyapa, kita diberi satu petuah: PK itu kejam, mempertemukan untuk memisahkan. Aku tentu saja tidak setuju. Aku lebih suka berpikir: PK itu baik, mempertemukan untuk dipertemukan kembali suatu hari nanti dalam kondisi yang lebih baik. Pada titik ini aku merindukan tidur hanya dua jam dan juga mandi seadanya. Sungguh aku begitu merindukan hal itu.
Terima Kasih teman-teman RaGa untuk semua cerita dan setiap detik yang kita lalui bersama.
You're all hard to find, difficult to leave and impossible to forget
With Love,
Cesty
Subscribe to:
Posts (Atom)